Ecozone

IPO PRDL Oversubscribe 709 Kali, Manajemen Bidik Kebijakan Dividen Setara PRDA

18
×

IPO PRDL Oversubscribe 709 Kali, Manajemen Bidik Kebijakan Dividen Setara PRDA

Sebarkan artikel ini
b658a9838b365b91a4030dd5443106d9.jpg
b658a9838b365b91a4030dd5443106d9.jpg

Jakarta, Fenesia.com – PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) resmi mencatatkan saham perdana di Bursa Efek Indonesia dengan mencetak rekor kelebihan permintaan atau oversubscribe hingga 709 kali.

Antusiasme pasar yang sangat masif ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap fundamental bisnis penyedia alat kesehatan tersebut.

Direktur Utama PRDL, Cristina Sandjaja, menyatakan bahwa keberhasilan penawaran umum perdana saham ini merupakan bukti nyata keyakinan pasar terhadap valuasi dan prospek pertumbuhan perusahaan.

“Kami sangat-sangat mengapresiasi animo dari para investor Indonesia,” kata Cristina seusai seremoni IPO PRDL di BEI, Kamis (10/7).

Lonjakan permintaan ini menjadi sinyal positif bagi perusahaan dalam upaya mengonsolidasikan kekuatan modal untuk ekspansi strategis ke depan.

Manajemen menargetkan pertumbuhan pendapatan serta laba bersih mampu menembus angka dua digit pada tahun berjalan.

Optimisme ini berakar pada rencana strategis perusahaan untuk meluncurkan berbagai produk diagnostik inovatif yang belum tersedia di pasar domestik mulai semester kedua 2026.

Perusahaan menargetkan untuk mempertahankan laju pertumbuhan bisnis di atas 20 persen, serupa dengan pencapaian kinerja pada tahun sebelumnya.

Target ambisius tersebut tetap dipasang sembari perusahaan melakukan mitigasi terhadap volatilitas kondisi ekonomi makro domestik.

Saat ini, PRDL tercatat telah memiliki basis pelanggan yang sangat kuat dengan lebih dari 60 persen pangsa pasar berasal dari sektor pemerintah.

Jangkauan operasional perusahaan telah mencakup lebih dari 7.000 puskesmas, rumah sakit, serta laboratorium yang tersebar di seluruh penjuru Tanah Air.

Meskipun telah melayani lebih dari 300 kabupaten dan kota melalui 70 distributor, manajemen melihat masih ada celah pasar yang luas.

Terdapat setidaknya 200 daerah di Indonesia yang dinilai belum terlayani secara optimal oleh sistem distribusi kesehatan saat ini.

Ekspansi ke wilayah-wilayah tersebut menjadi prioritas utama guna memperbesar pangsa pasar serta meningkatkan penetrasi produk.

Dana hasil IPO akan dialokasikan secara strategis, di mana 62 persen di antaranya digunakan untuk melunasi utang pembangunan fasilitas produksi baru.

Fasilitas produksi tersebut diketahui telah beroperasi secara penuh sejak April 2025 lalu.

Belanja modal atau capex ke depan akan difokuskan pada pengadaan mesin-mesin penunjang untuk meningkatkan kapasitas produksi secara efisien.

Selain itu, kebutuhan operasional akan diarahkan untuk pengadaan bahan baku guna mendukung peluncuran lini produk baru di masa mendatang.

Terkait kebijakan pembagian laba kepada pemegang saham, manajemen mengungkapkan aspirasi untuk mengikuti jejak PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA).

Ia berkeinginan agar rasio pembagian dividen perusahaan dapat setara dengan tingkat imbal hasil yang diberikan oleh perusahaan induknya tersebut.

“Semoga, harapan kami seperti itu,” ujar dia menanggapi potensi kebijakan dividen di masa depan.

Namun, ia menegaskan bahwa realisasi kebijakan ini tetap bergantung pada kinerja penjualan serta profitabilitas perusahaan pasca-IPO.

Prospektus perusahaan menyebutkan komitmen pembagian dividen tahunan maksimal 20 persen dari laba bersih mulai Tahun Buku 2026.

Kebijakan tersebut akan dijalankan dengan tetap memperhatikan tingkat kesehatan keuangan serta cadangan wajib perusahaan.

Manajemen menegaskan bahwa seluruh pemegang saham memiliki hak yang sama atas dividen sesuai dengan porsi kepemilikan masing-masing.