Ecozone

IHSG Melemah Tertekan Sentimen Negatif Bursa Asia dan Global

9
×

IHSG Melemah Tertekan Sentimen Negatif Bursa Asia dan Global

Sebarkan artikel ini
3f7a9fb6618121e1b386f121a5e3cef0.jpg
3f7a9fb6618121e1b386f121a5e3cef0.jpg

Jakarta, Fenesia.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengawali sesi perdagangan hari Rabu dengan tekanan jual yang cukup signifikan.

Indeks utama domestik ini dibuka melemah 2,32 poin atau 0,04 persen ke level 5.984,18.

Kondisi serupa turut dialami oleh kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 yang terkoreksi 0,48 poin atau 0,08 persen ke posisi 594,44.

Sentimen negatif ini dipicu oleh tren pelemahan yang melanda bursa saham di kawasan Asia serta pasar global secara keseluruhan.

“Investor mencermati masuknya Indonesia ke dalam watchlist klasifikasi pasar S&P Dow Jones Indices 2027, yang berpotensi meningkatkan kehati-hatian investor asing apabila tidak diikuti perbaikan aksesibilitas pasar,” sebut Tim Riset Lotus Andalan Sekuritas dalam kajiannya di Jakarta, Rabu (8/7/2026).

Ketidakpastian aksesibilitas pasar ini menjadi tantangan baru bagi daya tarik aset domestik di mata pemodal internasional.

Selain isu klasifikasi indeks, pasar tengah merespons sentimen risk-off yang dipicu oleh fluktuasi tajam di bursa Wall Street Amerika Serikat.

Gejolak geopolitik di Timur Tengah juga kembali memicu kekhawatiran pelaku pasar global secara luas.

Amerika Serikat dilaporkan melancarkan serangan baru terhadap Iran sekaligus mencabut izin ekspor minyak negara tersebut.

Kebijakan ini memicu lonjakan harga minyak mentah dunia di pasar komoditas.

Harga minyak Brent tercatat naik 3,0 persen menjadi 74,16 dolar AS per barel.

Sementara itu, harga WTI turut menguat sebesar hampir 3,0 persen ke posisi 70,44 dolar AS per barel.

“Dengan kombinasi sentimen itu, pergerakan IHSG diperkirakan berpotensi mengalami konsolidasi dengan bias hati-hati, meski fundamental domestik yang relatif solid masih berpotensi membatasi tekanan jual,” ujar dia.

Di sisi lain, sektor perbankan nasional sebenarnya menunjukkan performa yang cukup menggembirakan.

Pertumbuhan kredit perbankan tercatat mencapai 11,51 persen year on year (yoy).

Dana Pihak Ketiga (DPK) juga mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 13,47 persen (yoy).

Kualitas aset perbankan pun dilaporkan masih terjaga dengan solid di tengah ketidakpastian ekonomi.

Data ekonomi Amerika Serikat turut memberikan sinyal yang beragam bagi para pelaku pasar.

Defisit perdagangan AS pada Mei 2026 dilaporkan melebar hingga mencapai 77,6 miliar dolar AS.

Namun, indeks optimisme ekonomi menunjukkan perbaikan yang cukup berarti.

Ekspektasi inflasi masyarakat AS juga terpantau meningkat menjadi 3,7 persen.

Berbagai data tersebut memperkuat keyakinan bahwa Federal Reserve akan tetap bersikap berhati-hati dalam menentukan arah kebijakan moneter.

Fokus pelaku pasar kini tertuju pada risalah Federal Open Market Committee (FOMC) yang akan segera dirilis.

Dokumen tersebut diharapkan menjadi petunjuk penting terkait arah kebijakan suku bunga bank sentral AS ke depan.

Volatilitas di pasar global diprediksi masih akan bertahan tinggi dalam jangka pendek.

Bursa Eropa pada perdagangan Selasa (7/7) kemarin mayoritas ditutup melemah di tengah sentimen negatif tersebut.

Indeks Euro Stoxx 50 melemah 1,24 persen, sementara indeks DAX Jerman turun 0,37 persen dan indeks CAC 40 Prancis terkoreksi 0,51 persen.

Berbeda dengan bursa regional lainnya, indeks FTSE 100 Inggris justru mampu mencatatkan penguatan tipis sebesar 0,13 persen.

Di pasar Amerika Serikat, pergerakan indeks saham juga cenderung bervariasi.

Indeks Dow Jones Industrial Average menguat 0,25 persen dan indeks S&P 500 naik 0,45 persen.

Namun, indeks Nasdaq Composite justru mengalami tekanan jual yang cukup dalam sebesar 1,77 persen.

Bursa saham di kawasan Asia pada Rabu pagi juga bergerak dengan arah yang beragam.

Indeks Nikkei melemah 0,64 persen ke 68.887,00 dan indeks Kospi turun 1,69 persen ke 7.527,06.

Indeks Shanghai juga mencatatkan penurunan tipis sebesar 0,03 persen ke level 3.988,81.

Hanya indeks Strait Times yang mampu bertahan di zona hijau dengan penguatan sebesar 0,22 persen ke posisi 5.353,87.