Jakarta – PT Jayamas Medica Industri Tbk (OMED) resmi memutuskan pembagian dividen tunai final sebesar Rp 4,08 per saham untuk tahun buku 2025. Keputusan tersebut ditetapkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang berlangsung pada Senin (8/6/2026).
Total dana yang dialokasikan perusahaan untuk pembagian dividen ini mencapai Rp 110,4 miliar. Berdasarkan data perdagangan Rabu (10/6/2026), saham OMED ditutup pada level Rp 195 per saham, sehingga potensi yield dividen yang ditawarkan berada di kisaran 2,09 persen.
Direktur Pemasaran OMED, Louis Hartanto, menyatakan bahwa pembagian dividen ini merupakan bentuk komitmen perusahaan untuk memberikan imbal hasil yang konsisten kepada para pemegang saham. Langkah ini diambil seiring dengan kinerja operasional perseroan yang terus menunjukkan tren pertumbuhan positif.
Selain agenda pembagian dividen, perusahaan juga menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB). Dalam forum tersebut, pemegang saham memberikan persetujuan terkait pengalihan saham tresuri untuk pelaksanaan program kepemilikan saham bagi karyawan, direksi, dan komisaris atau Management and Employee Stock Option Plan (MESOP) tahap awal, dengan jumlah maksimal 17 juta saham.
Manajemen OMED juga mendapatkan restu pemegang saham untuk melakukan penyesuaian kegiatan usaha yang diselaraskan dengan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 2025. Penyesuaian ini dipandang sebagai langkah strategis untuk memperkuat operasional bisnis perusahaan ke depan.
Kinerja keuangan OMED pada kuartal I-2026 mencatatkan hasil yang solid. Pendapatan perseroan tumbuh 31,2 persen secara tahunan (year-on-year) menjadi Rp 572,2 miliar, yang didukung oleh peningkatan volume penjualan sebesar 54,1 persen.
Sejalan dengan kenaikan pendapatan, laba bersih perusahaan melonjak 35,4 persen secara tahunan menjadi Rp 99 miliar. Margin laba bersih tercatat stabil di angka 17,3 persen, sementara margin laba kotor mengalami penguatan menjadi 36 persen dari posisi 33,7 persen pada periode yang sama tahun lalu.
Untuk mempertahankan momentum pertumbuhan sepanjang tahun 2026, OMED telah menyiapkan sejumlah inisiatif strategis. Salah satu fokus utamanya adalah memulai produksi massal Intraocular Lens (IOL) pada kuartal IV-2026 guna membidik pasar operasi katarak di Indonesia.
Louis menjelaskan, masuknya perseroan ke segmen pasar tersebut diharapkan dapat meningkatkan aksesibilitas serta keterjangkauan produk IOL di dalam negeri. Selain itu, manajemen terus melakukan perluasan jaringan toko ritel omnichannel dan merampungkan pembangunan National Distribution Center (NDC) baru di Pulo Gadung, Jakarta, yang ditargetkan beroperasi pada 2026.
Perseroan menilai prospek industri alat kesehatan masih menjanjikan karena didukung oleh kebutuhan produk kesehatan yang bersifat rutin dan relatif tidak sensitif terhadap fluktuasi ekonomi. OMED juga optimistis dapat mengelola risiko pelemahan nilai tukar rupiah dan ketidakpastian geopolitik global berkat posisi kas yang kuat, struktur permodalan yang sehat, serta tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) sejumlah produk yang telah melampaui 40 persen.
Posisi kas perusahaan yang tercatat sebesar Rp 1,3 triliun memberikan fleksibilitas keuangan yang memadai bagi perseroan. Hal ini menjadi modal penting bagi perusahaan dalam menghadapi potensi kenaikan biaya impor akibat dinamika nilai tukar mata uang.







