Berita

Tim Ilmuwan Temukan Pohon Raksasa Setinggi 84 Meter di Hutan Taiwan

14
×

Tim Ilmuwan Temukan Pohon Raksasa Setinggi 84 Meter di Hutan Taiwan

Sebarkan artikel ini
ilmuwan-temukan-pohon-raksasa-berumur-1.000-tahun,-tingginya-84-meter
ilmuwan temukan pohon raksasa berumur 1.000 tahun, tingginya 84 meter

Jakarta – Tim ilmuwan gabungan berhasil menemukan pohon tertinggi di kawasan Asia Timur yang berlokasi di sebuah lembah terisolasi di Taiwan. Pohon konifer raksasa dengan nama ilmiah Taiwania cryptomerioides tersebut memiliki ketinggian mencapai 84,1 meter.

Pohon purba yang diperkirakan telah berusia 1.000 tahun ini dijuluki ‘Heaven Sword of the Da’an River’. Nama tersebut diambil dari senjata legendaris dalam novel silat karya penulis ternama Jin Yong.

Sementara itu, suku adat Rukai yang mendiami wilayah pegunungan selatan secara turun-temurun menyebut spesies pohon ini sebagai ‘pohon yang menabrak Bulan’. Sebutan itu muncul karena ujung pohon tersebut tampak seolah menembus langit malam.

Sebagai perbandingan, pohon tertinggi di dunia saat ini adalah Hyperion, yakni jenis pohon redwood pesisir yang berada di California, Amerika Serikat, dengan ketinggian mencapai 116 meter.

Penemuan ‘Heaven Sword’ sendiri bukanlah perkara mudah mengingat Taiwan merupakan wilayah dengan keanekaragaman hayati yang kaya. Merujuk studi tahun 2016, hutan menutupi sekitar 60 persen dari total wilayah pulau tersebut dengan perkiraan jumlah mencapai 950 juta pohon.

Keberadaan pohon-pohon kolosal yang tumbuh rapat di lanskap hutan Taiwan membuat misi pencarian ini menjadi tugas yang sangat berat sekaligus menantang. Penemuan yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Forests and Global Change ini dicapai setelah komunitas pemburu pohon Taiwan yang terdiri dari pemanjat profesional, ahli ekologi, geolog, dan spesialis pengindraan jauh melakukan pencarian selama hampir satu dekade.

Untuk memvalidasi angka ketinggiannya secara pasti, tim harus menempuh ekspedisi fisik yang sangat ekstrem pada awal 2023. Para ilmuwan harus berenang sepanjang lebih dari 20 kilometer, lalu melanjutkan perjalanan dengan mendaki gunung selama berhari-hari.

“Di lapangan, kami menggunakan drone untuk memeriksa pohon yang akan dipanjat sebelum memanjatnya,” kata penulis utama studi, Rebecca Chia-Chun Hsu.

“Namun, cara paling akurat untuk mengukur tinggi pohon raksasa adalah dengan metode pengukuran menggunakan pita pengukur,” lanjutnya.

Hsu meyakini setiap ekspedisi sepadan dengan usaha yang dikeluarkan, meski harus menghadapi cuaca tak terduga dan kondisi yang tidak menguntungkan. Tim peneliti bahkan harus membuka jalan sendiri melintasi area-area terpencil yang mungkin tidak akan pernah dilihat jika tidak melakukan ekspedisi ini.

Menurut Hsu, pohon-pohon raksasa memiliki peran ekologis yang sangat penting dalam hutan dengan menyerap karbon dioksida dan menjadi pelindung bagi ekosistem sekitarnya. Ia mengatakan, hutan pohon raksasa di Taiwan berpotensi menjadi salah satu lingkungan dengan kepadatan karbon paling pekat di dunia.

“Di samping nilai karbonnya, pohon-pohon besar berkontribusi pada kompleksitas struktural dan keanekaragaman fungsional hutan, sekaligus menyediakan habitat kritis bagi organisme lain,” kata kepala kelompok keanekaragaman hutan dan biodemografi di Swiss Federal Research Institute WSL, Lalasia Bialic-Murphy, yang tidak terlibat dalam penelitian ini.

Namun, menurutnya benteng ekologi ini sedang berada dalam kondisi kritis. Estimasi terbaru menunjukkan bahwa lebih dari 30 persen spesies pohon di dunia kini menghadapi risiko kepunahan yang tinggi.

Studi terbaru ini menegaskan bahwa pohon-pohon tinggi merupakan salah satu organisme yang paling rentan terhadap perubahan iklim. Mereka memiliki sensitivitas yang lebih besar terhadap kekeringan serta peristiwa cuaca ekstrem, seperti terjangan topan kuat dan tanah longsor akibat curah hujan tinggi yang kerap melanda Taiwan.