Jakarta – Anjloknya nilai tukar rupiah hingga menyentuh level Rp 18.000 per dolar AS memaksa pelaku usaha melakukan langkah efisiensi ekstrem. Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) menyebut, pelemahan mata uang Garuda ini telah menekan margin operasional hingga ke ambang batas toleransi.
Ketua Umum GINSI, Subandi, mengungkapkan bahwa sejumlah industri telah memangkas operasional pabrik demi menekan biaya produksi. Salah satu langkah konkret yang diambil adalah pengurangan jam kerja dari tiga giliran (shift) menjadi dua giliran kerja saja.
Kondisi ini memicu kekhawatiran pelaku usaha karena nilai tukar rupiah saat ini mendekati level psikologis Rp 19.000 per dolar AS. Padahal, pada awal tahun, kurs rupiah masih berada di kisaran Rp 16.000. Menurut Subandi, batas aman bagi importir berada di level Rp 15.500 hingga Rp 15.800.
Jika rupiah menembus angka Rp 19.000 per dolar AS, importir mengaku akan kewalahan mempertahankan produksi. Kenaikan kurs sebesar 20 persen dari batas aman ini dinilai berdampak signifikan terhadap beban biaya modal. Sebagai ilustrasi, modal yang biasanya cukup untuk mendatangkan barang senilai Rp 100 miliar, kini membengkak menjadi Rp 120 miliar untuk volume yang sama.
Selain modal, beban pajak dan biaya logistik juga ikut melonjak karena dipungut berdasarkan nilai transaksi dalam invoice. Situasi ini memaksa pengusaha menaikkan harga jual produk di tengah daya beli masyarakat yang masih lemah. Jika kondisi tidak membaik, opsi pengurangan tenaga kerja, perumahan sementara, hingga Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) menjadi ancaman nyata.
Menanggapi tekanan tersebut, Bank Indonesia dan pemerintah menegaskan komitmen untuk menjaga stabilitas nilai tukar melalui koordinasi kebijakan fiskal dan moneter yang erat. Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyatakan bahwa pihaknya bersama Kementerian Keuangan terus berupaya menyelaraskan langkah untuk melakukan stabilisasi rupiah.
Koordinasi ini difokuskan agar kebijakan fiskal dan moneter saling mendukung dalam menghadapi gejolak ekonomi global. Fokus utama otoritas saat ini adalah memastikan stabilitas nilai tukar tetap terjaga sekaligus tetap mendorong pertumbuhan ekonomi nasional di tengah tantangan depresiasi rupiah.







