Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah mengalami tekanan berat pada perdagangan Senin, 18 Mei 2026. IHSG sempat anjlok hingga 4,28 persen ke level 6.435 pada pagi hari, sementara rupiah terperosok ke level Rp 17.672 per dolar AS di tengah kekhawatiran geopolitik global.
Kondisi pasar keuangan domestik yang volatil ini dipicu oleh kombinasi sentimen eksternal dan teknikal. Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, menjelaskan bahwa pasar saat ini tengah merespons implementasi penyesuaian bobot atau rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI).
“Volatilitas diperkirakan tetap tinggi, terutama pada sesi closing auction yang menjadi titik utama penyesuaian portofolio passive funds global,” ujar Imam.
Meski IHSG berada dalam fase bearish secara teknikal, Imam menilai fundamental ekonomi Indonesia masih cukup resilien dengan capaian pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61 persen pada kuartal I-2026. Ia memprediksi adanya peluang rotasi aliran dana masuk ke saham-saham seperti BMRI, PGAS, ADRO, INDF, hingga MTEL dan TOWR seiring dengan potensi perubahan status pasar Korea Selatan yang dapat menguntungkan negara-negara emerging market.
Sementara itu, pelemahan rupiah dipicu oleh sentimen risk off global pasca-pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden Cina Xi Jinping. Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pasar kecewa lantaran pertemuan tersebut minim solusi konkret terkait perang AS-Iran.
Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah membuat investor cenderung meninggalkan aset berisiko dan beralih ke dolar AS. Di saat yang sama, harga minyak mentah dunia kembali terkerek naik akibat kekhawatiran konflik yang berkepanjangan, yang semakin menekan mata uang negara berkembang.
Di sisi lain, analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menyoroti faktor domestik yang turut membebani pergerakan rupiah. Menurutnya, respons pelaku pasar terhadap pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai dampak penguatan dolar bagi masyarakat desa menciptakan persepsi negatif. Pernyataan tersebut dinilai pelaku pasar kurang mengantisipasi dampak sistemik pelemahan kurs terhadap ekonomi makro.
Hingga saat ini, pelaku pasar masih menanti keputusan Presiden AS terkait langkah lanjutan atas konflik dengan Iran. Ketidakpastian mengenai ambisi nuklir Iran yang belum menemui titik temu diplomasi membuat tekanan jual pada aset-aset keuangan diperkirakan masih akan berlanjut dalam jangka pendek. Para investor pun disarankan untuk tetap disiplin dalam mengelola risiko di tengah kondisi pasar yang tidak menentu.














