FENESIA – Baru-baru ini turnamen bulu tangkis All England 2021 ramai diperbincangkan publik, terutama di Indonesia.
Hal ini dikarenakan tim Indonesia diminta mundur oleh Pemerintah Inggris terkait adanya orang yang terkonfirmasi positif Covid-19 dalam pesawat yang mereka tumpangi dari Istanbul ke Birmingham pada Sabtu (13/3).
Permintaan Pemerintah Inggris ini membuat banyak pihak di tanah air kecewa karena tim bulu tangkis Indonesia harus melakukan isolasi terlebih dahulu selama 10 hari. Ini merupakan pertama kalinya dalam sejarah bahwa tim bulu tangkis tanah air diminta untuk mundur dari All England.
Berikut fakta unik mengenai kejuaraan bulu tangkis Inggris terbuka (All England Open Badminton Championship).
Turnamen tertua di dunia

All England disebut sebagai turnamen bulu tangkis tertua di dunia. Kompetisi bulu tangkis internasional ini pertama kali dilaksanakan pada 1898 di Guildford, Inggris, dan mulai resmi bergulir setahun setelahnya.
Saat pertama kali bergulir, All England hanya mempertandingkan tiga sektor, yaitu ganda putra, ganda putri dan ganda campuran. Kemudian, sektor tunggal putra dan tunggal putri juga ikut dipertandingkan.
Sempat tertunda karena Perang Dunia

Pelaksanaan All England sempat tertunda karena Perang Dunia pertama dan kedua. Pada periode pertama, All England terhenti selama empat tahun, dari 1915-1919. Sementara saat perang dunia ke-II gelaran itu terhenti dari 1940 hingga 1946.
Selain dua periode kelam itu, All England terus dipertandingkan hingga saat ini. Tercatat, turnamen yang pada awalnya bernama Badminton Association Tournament tersebut sudah bergulir selama 120 tahun.
Sudah 7 kali pindah stadion!

Sejak diadakan pada 1899, All England sudah tujuh kali pindah stadion. Pada tahun pertama hingga 1901, All England diadakan di HQ London Scottish Regiment Drill Hall, Buckingham Gate.
Setahun kemudian, venue dari kompetisi ini pindah ke Crystal Palace, Sydenham, Kent. Tapi, itu pun tak bertahan lama, karena setahun kemudian, pada 1903-1909, turnamen All England dipindah ke London Rifle Brigades City Headquarters, Bunhill Hill, London.
Setelahnya All England berturut-turut dipertandingkan di The Royal Horticultural Hall, Vincent Square, London dari 1910 hingga 1939, Haringay Arena, London (1947-1949), Empress Hall, Earls Court, London (1950-1956), Wembley Arena, London (1957-1993), dan Barclaycard Arena, Birmingham (1994-sekarang).
Peraih gelar terbanyak

Hingga 2019, terdapat 14 pemain yang berhasil meraih gelar All England sebanyak dua digit. Enam diantaranya merupakan pebulu tangkis asal Inggris.
Sampai saat ini peraih gelar terbanyak All England masih dipegang oleh Sir George Alan Thomas.
Pria yang namanya diabadikan untuk turnamen beregu putra, Thomas Cup tersebut berhasil meraih 21 gelar. Rinciannya empat kali di sektor tunggal putra, sembilan di sektor ganda putra, dan delapan disektor ganda campuran.
Pemain Indonesia dengan gelar memenangkan All England terbanyak

Dalam kejuaraan All England, Indonesia memiliki reputasi yang tak bisa dipandang sebalah mata.
Tercatat, Rudy Hartono atau juga dikenal dengan Liem Swie King, yang bermain disektor tunggal putra menjadi atlet bulu tangkis Indonesia dengan gelar All England terbanyak.
Rudy berhasil menjuarai turnamen prestisius itu sebanyak delapan kali, tujuh diantaranya dilakukan secara beruntun dari 1968-1974.
Itulah lima fakta unik seputar kejuaraan All England versi Fenesia, fakta mana yang udah kamu ketahui sebelumnya?














