Jakarta – Indonesia perlu waspadai risiko ekonomi akibat penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Penangkapan dilakukan oleh militer AS.
Pengamat ekonomi Universitas Hasanuddin (Unhas), Muhammad Syarkawi Rauf, menyampaikan hal ini.
Menurutnya, insiden ini berpotensi memengaruhi perekonomian global, termasuk Indonesia.
Syarkawi menjelaskan, penangkapan Maduro pada Sabtu (3/1/2026) mengguncang tatanan politik global.
Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko terhadap perekonomian global.
Venezuela memiliki cadangan minyak terbukti terbesar di dunia, mencapai 303 miliar barel.
Cadangan ini lebih besar dari Arab Saudi (267 miliar barel), Iran (209 miliar barel), Irak (145 miliar barel), dan UEA (113 miliar barel).
Meski demikian, kontribusi ekonomi Venezuela terhadap GDP global menurun dalam 50 tahun terakhir.
Dari 1 persen menjadi hanya 0,1 persen.
Produksi minyak Venezuela juga turun dari 3,5 juta barel per hari menjadi sekitar 1 juta barel per hari.
Saat ini, dampak penangkapan Maduro terhadap harga minyak Brent dan WTI mengalami kenaikan 1,7 persen.
Masing-masing menjadi 61,76 dolar AS per barel (Brent) dan 58,32 dolar AS per barel (WTI).
Syarkawi menambahkan, penangkapan Maduro membuat prospek sektor energi positif dalam jangka menengah.
Ekspektasi investasi pada infrastruktur perminyakan akan meningkat.
Hal ini berdampak pada kenaikan harga saham perusahaan minyak AS.














