Jakarta – Gejolak geopolitik di Timur Tengah memicu lonjakan harga minyak dunia hingga menyentuh USD 110 per barel, atau naik sekitar 60 persen dibandingkan awal tahun. Kondisi ini memberikan tekanan signifikan terhadap ketahanan energi nasional Indonesia.
Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Muhammad Kholid Syeirazi, mengungkapkan bahwa ketahanan energi dalam negeri sangat rentan terhadap faktor global, terutama gangguan rantai pasok akibat ketegangan di kawasan tersebut.
Hal itu disampaikan Kholid dalam Forum Diskusi “Menjaga Ketahanan Energi di Tengah Gejolak Harga Minyak Global” di Jakarta, Kamis (9/4/2026). Menurutnya, gangguan di Selat Hormuz menjadi ancaman serius karena sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melintasi jalur tersebut.
Data mencatat, hampir sepertiga impor LPG dan seperlima impor minyak mentah Indonesia bergantung pada jalur Selat Hormuz. Sebagai langkah mitigasi, pemerintah kini berupaya melakukan diversifikasi sumber impor energi ke negara-negara di luar kawasan konflik.
Kholid menekankan perlunya payung hukum yang kuat untuk mendukung diversifikasi tersebut. Regulasi yang memadai diperlukan agar proses pengadaan energi, seperti pembelian minyak mentah dari Australia, dapat berjalan lancar tanpa hambatan di masa depan.
Tantangan Indonesia diperberat oleh kerentanan struktural. Pada 2025, produksi minyak nasional tercatat sebesar 220,9 juta barel, sementara impor mencapai 117,8 juta barel. Ketergantungan impor LPG bahkan lebih tinggi, yakni mencapai 7,47 juta ton.
Kholid memproyeksikan bahwa setiap kenaikan harga minyak sebesar USD 1 per barel berpotensi menambah beban belanja negara hingga Rp10,3 triliun untuk subsidi dan kompensasi energi. Jika harga melonjak hingga USD 10 per barel, beban subsidi diperkirakan membengkak hingga Rp79 triliun.
Meski berada di bawah tekanan, Indeks Ketahanan Energi (IKE) Indonesia pada 2025 masih berada di angka 7,13 atau masuk dalam kategori ‘tahan’. Untuk mempertahankan capaian tersebut, pemerintah dinilai perlu mengambil langkah strategis yang adaptif dengan mengoptimalkan peran BUMN energi.Jakarta – Dinamika geopolitik di Timur Tengah memicu lonjakan harga minyak dunia hingga menyentuh USD 110 per barel, atau naik sekitar 60 persen dibandingkan awal tahun. Kondisi ini memberikan tekanan signifikan terhadap ketahanan energi nasional Indonesia.
Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Muhammad Kholid Syeirazi, mengungkapkan bahwa gangguan di Selat Hormuz menjadi ancaman serius. Pasalnya, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, termasuk hampir sepertiga impor LPG dan seperlima impor minyak mentah Indonesia, bergantung pada jalur tersebut.
“Ketahanan energi nasional saat ini sangat dipengaruhi oleh faktor global yang sulit dikendalikan, seperti gangguan rantai pasok dan ketegangan geopolitik,” ujar Kholid dalam Forum Diskusi di Jakarta, Kamis (9/4/2026).
Sebagai langkah mitigasi, pemerintah kini mendorong diversifikasi sumber impor energi ke luar kawasan konflik. Kholid menekankan pentingnya payung hukum yang kuat agar proses pengadaan energi dari negara alternatif, seperti Australia, dapat berjalan lancar tanpa kendala regulasi.
Data menunjukkan Indonesia masih memiliki kerentanan struktural. Pada 2025, produksi minyak nasional tercatat













