Tapanuli Selatan – Banjir dahsyat yang menerjang Sumatera dan Aceh mengungkap dugaan kerusakan lingkungan masif, ditandai dengan hanyutnya ribuan kayu gelondongan di sejumlah wilayah. Video penampakan kayu-kayu besar yang bahkan masuk ke rumah warga di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, viral di media sosial pada Minggu (30/11/2025), memicu pertanyaan tentang asal-usulnya dan penyebab bencana.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto, memastikan temuan kayu tersebut dan menyebut kondisi di dua desa di Tapanuli Selatan “parah”. Selain masuk ke rumah-rumah warga, tumpukan kayu gelondongan juga terlihat memenuhi aliran Sungai Aek Garoga di Jembatan Aek Garoga, Kecamatan Batang Toru.
Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) menuding fenomena ini sebagai bukti kuat adanya praktik eksploitasi hutan di kawasan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS). Manajer Riset Walhi Sumatera Barat, Andre Bustamar, pada Selasa (2/12/2025), menjelaskan bahwa ini memperkuat dugaan aktivitas penebangan yang menjadi pemicu meningkatnya risiko bencana ekologis.
Menurut Walhi, bencana di Sumatera Barat merupakan akumulasi krisis lingkungan akibat kegagalan pemerintah mengelola Sumber Daya Alam (SDA). Andre menyebut deforestasi, pertambangan emas ilegal, dan lemahnya penegakan hukum sebagai penyebab utama mengapa wilayah tersebut terus didera bencana ekologis.
Direktur Eksekutif Walhi, Riandra, mencatat wilayah terdampak gelondongan kayu paling parah adalah Tapanuli Tengah, Sibolga, dan Tapanuli Selatan, yang hulunya berada di ekosistem Batang Toru. Walhi Sumut telah berulang kali mengkritisi pengelolaan Batang Toru, termasuk keberadaan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru dan pertambangan emas yang beroperasi di sungai tersebut.
Riandra juga mengungkapkan adanya aktivitas kemitraan kebun kayu dengan PT TPL di desa-desa lain di Kecamatan Sipirok, yang berujung pada alih fungsi hutan. Ia menyoroti bahwa aktivitas eksploitasi ini seringkali dilegalisasi pemerintah melalui pelepasan kawasan hutan untuk izin revisi tata ruang.
Namun, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Kemenhut) memberikan dugaan berbeda. Direktur Jenderal Penegakan Hukum (Dirjen Gakkum) Kehutanan Kemenhut, Dwi Januanto Nugroho, pada Sabtu (29/11/2025), sempat menduga gelondongan kayu tersebut merupakan bekas tebangan yang sudah lapuk.
Dwi menjelaskan, kayu-kayu itu diduga milik pemegang hak atas tanah (PHAT) di areal penggunaan lain (APL) yang belum sempat diangkut. Meskipun demikian, Kemenhut masih melakukan pengecekan mendalam untuk memastikan asal-usul pasti dari gelondongan kayu tersebut.
Bencana banjir yang melanda tiga provinsi, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, telah menelan korban jiwa. Data BNPB per Selasa (2/12/2025) mencatat sedikitnya 708 jiwa tewas dan 499 jiwa lainnya masih dilaporkan hilang. Wilayah yang paling terdampak banjir bandang meliputi Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Sibolga, dan Tapanuli Utara.







