Ahli Forensik Temukan Solar-Tiner di Beberapa Lantai Gedung Kejagung

  • Bagikan
Gdung Kejagung RI yang terbakar pada bulan Agustus 2020 lalu Foto: Syailendra Hafiz Wiratama/detikcom

FENESIA – Jaksa Penuntut Umum (JPU) datangkan ahli forensik dalam sidang kasus kebakaran gedung utama Kejagung RI yang terjadi pada 22 Agustus 2020. Ahli mengatakan fraksi solar dan fraksi tiner ditemukan di lokasi Kebakaran Kejagung.

“Kita ambil beberapa titik sample diperiksa di labolatorium. Dari pemeriksaan kita temukan di lantai 6 bahwa ada kandungan fraksi solar dan fraksi tiner,” kata saksi ahli forensik, Nurcholis dalam persidangan, di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jalan Ampera Raya, Jakarta Selatan, Senin, 22 Februari  2021, seperti yang dikutip dari Detikcom.

Nurcholis saat ini tengah menjabat sebagai Kasubdit Lakabakar Puslabfor Bareskrim Polri. Nurcholis mengaku ikut melakukan olah TKP dan memeriksa sample di lokasi.

Nurcholis mengatakan menemukan beberapa botol berisi solar dan tiner. Fraksi solar dan tiner sendiri disebut ditemukan dari lantai dasar hingga lantai 6 gedung utama kejagung.

“Ini ada satu botol plastik berisi cairan di lantai 5, fraksi solar, 1 botol plastik berisi cairan di lantai 3, ini ada fraksi solar juga. Kemudian 2 botol plastik ini di lantai 1. Di lantai 6 ada dilokasi pertama tadi,” ungkap Nurcholis.

Selain botol berisi cairan, Nurcholis mengatakan bahwa pihaknya juga menemukan adanya kaleng yang terbakar di lantai 6 Kejagung. Tidak hanya itu, dia juga mengambil sample potongan kerangka dinding yang terbakar.

“Di TKP kita menemukan kaleng yang terbakar, kaleng kita temukan di lantai 6. Besi yang terbakar di lantai 6, kita ambil potongan-potongan kerangka dinding,” kata Nurcholis.

Nurcholis mengatakan bahwa sumber api pertama berasal dari lantai 6 gedung utama Kejagung. Menurutnya, hal ini disimpulkan berdasarkan analisa tingkat kerusakan terparah setiap lantai.

“Kita kaitkan dengan, kenapa kok kejadian ini cepat proses penjalaran apinya. Nah secara singkat, salah satunya kita melakukan pemeriksaan, untuk menambah menjelaskan tingkat kerusakannya. Kenapa cepat, itu sekaligus dengan adanya terdeteksinya fraksi solar,” terang Nurcholis.

“Dari proses kegiatan analisa tingkat kerusakan dapat kita simpulkan bahwa lokasi api pertama dari tingkat kerusakannya kita simpulkan pertama muncul di lantai 6,” lanjutnya.

Akan tetapi, dia mengatakan penyebab kebakaran masih menggunakan teori probability atau masih terbukanya kemungkinan lain penyebab terjadinya kebakaran. Menurutnya, teori ini digunakan diberbagai negara.

“Kita tidak bisa memastikan antara bara dengan api sudah maksimal, bahwa dua-duanya bisa menyebabkan timbulnya kebakaran. Untuk penyebab kebakaran pendekatan kemungkinan, itu digunakan di berbagai negara,” ucap.

Diketahui, dalam kasus ini sebanyak 6 pekerja proyek didakwa melakukan kelalaian yang mengakibatkan kebakaran. Atas perbuatannya, keenam terdakwa pun didakwa Pasal 188 KUHP juncto 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

  • Bagikan