Tangerang – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) menargetkan seluruh armada Garuda Indonesia dapat kembali beroperasi pada tahun 2026. Saat ini, banyak pesawat Garuda yang terparkir (grounded) di hangar sejak pandemi Covid-19.
Managing Director Danantara Indonesia, Febriany Eddy, menyatakan target tersebut saat ditemui di kantornya, Jumat (14/11/2025). “Target kami adalah tahun depan semua yang hari ini grounded semua bisa terbang, tentu bertahap ya,” ujarnya.
Menurut Febriany, suntikan dana terbaru dari Danantara sebagian besar dialokasikan untuk perawatan pesawat. Armada yang tidak beroperasi terkendala perawatan yang belum dilakukan.
Kondisi ini berdampak pada hilangnya potensi pendapatan maskapai. Meski demikian, Garuda tetap harus membayar biaya sewa pesawat. Operasional sebelumnya juga menyebabkan kerugian besar. “Setiap hari menunda, maka semakin besar lubang yang harus ditutup,” kata Febriany.
Merujuk data resmi Garuda Indonesia, saat ini terdapat 77 pesawat yang terdiri dari berbagai tipe seperti Boeing 777-300ER, Boeing 737-800NG, Airbus A330-200, Airbus A330-300, dan Airbus A330-900neo. Usia rata-rata pesawat adalah 13,06 tahun per 31 Mei 2025.
Danantara telah menambah modal sebesar Rp 23,67 triliun dari PT Danantara Asset Management. Modal tersebut terdiri dari setoran tunai Rp 17,02 triliun dan konversi utang Rp 6,65 triliun. Keputusan ini disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) di Auditorium Gedung Manajemen Garuda Indonesia, Tangerang, Rabu (12/11/2025).
Dari total dana tersebut, sekitar Rp 8,7 triliun (37 persen) akan digunakan untuk modal kerja Garuda Indonesia, termasuk perawatan pesawat. Sisanya, Rp 14,9 triliun (63 persen), dialokasikan untuk mendukung operasional anak perusahaan, Citilink. Rinciannya, Rp 11,2 triliun untuk modal kerja dan Rp 3,7 triliun untuk pelunasan kewajiban pembelian bahan bakar kepada Pertamina periode 2019-2021.
Febriany menegaskan, penundaan biaya perawatan tidak dapat ditoleransi karena kerugian perusahaan sudah signifikan. “Kami akan ikut monitor dan tidak akan bekerja bersama dengan tim manajemen Garuda Indonesia,” tegasnya.
Selain masalah armada Garuda, Febriany mengungkapkan bahwa armada Citilink juga banyak yang tidak beroperasi. Dengan adanya tambahan dana, diharapkan kedua maskapai dapat kembali terbang seluruhnya dan tidak saling “mematikan” usaha di rute tertentu.
“Garuda dan Citilink itu tidak murni sinergi, makanya itu juga salah satu tranformasi yang kami lakukan,” pungkasnya.






