Bantul – Raja Keraton Surakarta Hadiningrat, SISKS Pakubuwono XIII Hangabehi, dimakamkan di kompleks Makam Raja-Raja Mataram Imogiri, Bantul, Yogyakarta, Rabu (5/11). Prosesi pemakaman berlangsung khidmat di kompleks yang menjadi peristirahatan terakhir raja-raja Mataram selama ratusan tahun.
Kompleks pemakaman Imogiri terletak di Gunung Merak dan dikenal sebagai Pajimatan, yang berarti ‘tempat untuk pusaka’.
Sultan Agung, raja Mataram Islam yang memerintah pada 1613-1645, menjadi tokoh pertama yang dimakamkan di Imogiri.
Kompleks ini kemudian dilanjutkan oleh para penerusnya yang memimpin Kerajaan Mataram Islam, yang kemudian terpecah menjadi keraton di Yogyakarta dan Solo.
Sultan Agung mendirikan kompleks pemakaman ini saat pusat pemerintahan Mataram Islam masih berada di Kotagede.
Imogiri berasal dari kata ‘hima’ (kabut) dan ‘giri’ (gunung), yang berarti ‘gunung yang diselimuti kabut’.
Pemilihan lokasi di dataran tinggi berakar pada kepercayaan Jawa pra-Hindu dan Hindu yang menganggap tempat tinggi sebagai kawasan sakral.
Arsitektur Imogiri memadukan gaya Hindu dan Islam, terlihat dari penggunaan bata merah tanpa semen yang disusun dengan teknik kovod.
Tangga menuju puncak Imogiri terdiri dari ratusan anak tangga pendek untuk memudahkan peziarah yang mengenakan pakaian adat.
Selain Sultan Agung, tokoh-tokoh penting lain yang dimakamkan di Imogiri antara lain Sunan Amangkurat II dan IV, Sunan Paku Buwono I hingga XII, Sultan Hamengku Buwono I hingga IX, serta kerabat dekat dan pejabat tinggi kerajaan dari Kasunanan Solo dan Kasultanan Yogyakarta.
Kompleks pemakaman ini terbagi menjadi tiga kelompok utama: Kedaton Sultan Agungan dan Pakubuwanan, Bagasan-Girimulya, dan Kaswargan-Saptarengga.
Makam Sultan Agung terletak di lokasi tertinggi di puncak Bukit Merak, melambangkan kedudukannya sebagai tokoh yang dihormati.







