Jakarta – Tiga bank Syariah milik negara, BRI Syariah, BNI Syariah dan Mandiri Syariah bakal menjadi satu Bank Syariah, alias merger.
Kabar merger tiga Bank Syariah itu dibenarkan Menteri BUMN Erick Thohir sejak awal 2020.
Erick mengatakan, Bank Syariah hasil merger dengan skala lebih besar bakal rampung pada 2021.
Namun, ketiga Bank Syariah itu sendiri enggan mengomentari proses yang berjalan, dan mengaku tunduk kepada pemegang saham, yang mayoritas adalah Bank Umum Konvensional (BUK) milik negara.
Sampai saat ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sendiri belum mendapatkan adanya pengajuan izin resmi terhadap rencana Merger tersebut.
Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) 2015-2020 Fauzi Ichsan mengatakan industri perbankan syariah memiliki prospek besar, untuk terus tumbuh dan menjadi energi baru ekonomi nasional.
“Aksi konsolidasi akan berdampak pada turunnya biaya penggalangan dana bank syariah sehingga memungkinkan untuk memperluas ruang gerak,” kata Fauzi dikutip dari Republika beberapa waktu lalu.
Selain itu, dia menilai langkah Merger dianggap menjadi solusi untuk mengatasi tingginya biaya operasional dan capital expenditure yang kerap dialami perbankan syariah. Dengan konsolidasi, biaya penggalangan DPK, biaya operasional dan biaya capex bisa ditekan.
“Langkah ini adalah tonggak sejarah untuk kita semua, tonggak pertama menggabungkan bank-bank syariah nasional,” kata Menteri BUMN Erick Thohir dalam sebuah tayangan video, Selasa, 13 Oktober 2020.
Jika melihat aset ketiga Bank Syariah itu, hasil merger ketiganya akan menghasilkan total aset mencapai Rp 245,87 triliun.
Aset itu berasal dari Bank Mandiri Syariah Rp 114,4 triliun, Bank BNI Syariah Rp 50,78 triliun dan Bank BRI Syariah Rp 49,6 triliun.
Aset itu merupakan aset yang tercatat pada kuartal II 2020.
Erick menjelaskan, Merger ini merupakan inisiatif pemerintah, sebab negara Indonesia memiliki populasi umat muslim terbesar di dunia.













