Ecozone

IHSG Terkoreksi 1,1 Persen, Rupiah Kembali Melemah ke Rp18.000

12
×

IHSG Terkoreksi 1,1 Persen, Rupiah Kembali Melemah ke Rp18.000

Sebarkan artikel ini
bd16778d839a829e3698f9d84e334d58.jpg
bd16778d839a829e3698f9d84e334d58.jpg

Jakarta, Fenesia.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan jual yang cukup signifikan pada penutupan perdagangan sesi pertama hari Rabu (8/7), setelah melemah 66,346 poin atau setara dengan 1,11 persen ke level 5.920,151.

Sentimen negatif pasar domestik ini terlihat jelas dari pergerakan indeks LQ45 yang juga ikut terperosok sebesar 6,985 poin atau 1,17 persen ke posisi 587,932.

Data perdagangan mencatat sebanyak 447 saham mengalami penurunan nilai, sementara hanya 197 saham yang mampu mencatatkan kenaikan harga di tengah volatilitas pasar.

Sebanyak 142 saham lainnya tercatat tidak mengalami perubahan harga atau berada dalam posisi stagnan hingga akhir sesi perdagangan siang.

Aktivitas transaksi pasar modal hari ini tergolong aktif dengan frekuensi perdagangan mencapai 1.137.021 kali transaksi.

Total volume saham yang diperdagangkan oleh para pelaku pasar mencapai 12,250 miliar lembar saham.

Secara kumulatif, nilai transaksi yang berhasil dibukukan pada sesi pertama mencapai angka Rp 5,227 triliun.

Tekanan pada IHSG turut dipicu oleh performa negatif dari sejumlah emiten yang masuk dalam jajaran top losers sepanjang sesi siang tadi.

Saham PT Bekasi Asri Pemula (BAPA) memimpin pelemahan dengan koreksi sebesar 68 poin atau 14,98 persen ke level 386.

Selanjutnya, saham PT Trimitra Propertindo (LAND) harus tergerus 9 poin atau 12,86 persen ke angka 61.

Saham PT Bhuwanatala Indah Permai (BIPP) juga terpantau turun 8 poin atau 11,43 persen ke level 62.

Tidak ketinggalan, saham PT Nusatama Berkah (NTBK) ikut melemah 10 poin atau 11,11 persen ke posisi 80.

Kondisi pasar saham yang memerah ini beriringan dengan pergerakan mata uang Garuda yang tengah berada di bawah tekanan dolar AS.

“Mengutip data Bloomberg, nilai tukar rupiah pukul 11.55 WIB melemah 24 poin (0,13 persen) di Rp 18.004 terhadap dolar AS,” ujar seorang analis pasar modal dikutip dari Bloomberg pada Rabu (8/7/2026).

Ia menjelaskan bahwa pelemahan rupiah ini menjadi salah satu faktor yang memicu aksi wait and see dari para investor institusi.

Lanjutnya, tekanan eksternal turut memberikan pengaruh terhadap sentimen investor di kawasan regional Asia pada perdagangan hari ini.

Indeks Nikkei 225 di Jepang tercatat mengalami penurunan sebesar 572,296 poin atau 0,84 persen ke level 67.684,703.

Namun, kondisi berbeda justru ditunjukkan oleh bursa saham Hong Kong dengan indeks Hang Seng yang berhasil menguat 560,349 poin atau 2,38 persen ke 24.057,240.

Pasar modal China juga menunjukkan optimisme dengan indeks SSE Composite yang naik 20,810 poin atau 0,52 persen ke 4.011,050.

Selain itu, indeks Straits Times di Singapura ikut mencatatkan kinerja positif dengan kenaikan 59,789 poin atau 1,12 persen ke 5.402,029.

Dinamika bursa regional yang variatif ini mencerminkan adanya perbedaan respons pasar terhadap kebijakan ekonomi di masing-masing negara.

Para pelaku pasar kini menanti perkembangan data ekonomi lanjutan untuk mengantisipasi potensi pembalikan arah pada sesi perdagangan sore nanti.