New York – Bursa saham Amerika Serikat ditutup melemah pada perdagangan Jumat (15/5/2026) setelah sentimen inflasi akibat konflik Timur Tengah memicu lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Kondisi ini mengakhiri tren penguatan saham-saham berbasis teknologi dan kecerdasan buatan (AI) yang sebelumnya sempat mencetak rekor.
Imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun melonjak hingga mencapai level 4,58%, posisi tertinggi sejak Mei 2025. Kenaikan yield obligasi global ini mencerminkan kekhawatiran investor bahwa eskalasi perang di Iran akan memicu tekanan harga yang lebih luas, sehingga memaksa bank sentral untuk mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama.
Alat FedWatch milik CME Group kini mencatat probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember mendatang berada di angka 40%. Angka tersebut tercatat meningkat lebih dari dua kali lipat dalam sepekan terakhir menyusul data inflasi AS yang masih sulit dikendalikan.
Indeks Dow Jones Industrial Average terpantau melemah 436,84 poin atau 0,87% ke level 49.626,62. Sementara itu, indeks S&P 500 terkoreksi 1,13% menjadi 7.416,36 dan Nasdaq Composite anjlok 1,63% ke posisi 26.201,86.
Sektor teknologi mencatatkan penurunan paling dalam di antara 11 sektor utama S&P 500. Emiten semikonduktor mengalami tekanan jual signifikan, dengan Nvidia dan AMD masing-masing turun lebih dari 4%, sementara Intel merosot hingga 6,8%. Indeks volatilitas CBOE, yang dikenal sebagai pengukur ketakutan investor, naik 1,5 poin ke level 18,8.
Dinamika geopolitik juga turut mengerek harga komoditas energi. Harga minyak mentah Brent naik 2,4% menjadi 108,28 dolar AS per barel di tengah minimnya harapan penyelesaian konflik di Timur Tengah. Lonjakan biaya bahan bakar ini berdampak negatif bagi sektor maskapai, di mana saham Delta Air Lines, United Airlines, Southwest Airlines, dan Alaska Air kompak ditutup turun antara 1,9% hingga 2,7%.
Di tengah tekanan pasar, saham Microsoft justru menjadi pengecualian dengan kenaikan 1,3% setelah muncul kabar adanya posisi investasi baru dari hedge fund Pershing Square. Selain itu, saham Dexcom melonjak 5,6% pasca pengumuman perombakan jajaran direksi perusahaan.
Investor kini juga mencermati hasil pertemuan puncak AS-China yang berakhir Jumat ini. Meski membahas berbagai isu krusial mulai dari perdagangan hingga Taiwan, pertemuan tersebut belum menghasilkan terobosan besar yang mampu meredam volatilitas pasar global.
Secara teknikal, jumlah saham yang melemah di Bursa Efek New York mendominasi dengan rasio 3,84 banding 1 dibandingkan saham yang menguat. Di Nasdaq, tekanan serupa terlihat dengan rasio saham turun terhadap saham naik mencapai 3,34 banding 1.














