Jakarta – Bursa saham di kawasan Asia sepanjang pekan ini mencatatkan kinerja yang variatif dengan tingkat volatilitas tinggi. Ketidakpastian arah kebijakan moneter global serta memanasnya dinamika geopolitik menjadi katalis utama yang menekan pergerakan pasar regional.

Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengungkapkan bahwa hubungan dagang antara Amerika Serikat dan China kembali menjadi sorotan utama investor. Selain itu, pelaku pasar masih mencermati potensi pengetatan kebijakan moneter oleh The Fed seiring dengan data inflasi yang masih tinggi dan fluktuatif.

Faktor lain yang turut membatasi minat risiko investor adalah pergerakan harga minyak dunia serta rilis data tenaga kerja Amerika Serikat yang menunjukkan perlambatan. Kondisi ini diperburuk dengan adanya ketegangan di Timur Tengah yang dikhawatirkan memicu imported inflation atau inflasi impor bagi banyak negara.

Di tengah tekanan tersebut, bursa saham Jepang mencatatkan performa yang cukup kontras. Pasar Jepang sempat menembus rekor tertinggi sepanjang masa, didorong oleh laporan kinerja keuangan emiten yang solid serta ekspektasi normalisasi kebijakan moneter oleh Bank of Japan.

Sementara itu, di dalam negeri, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan jual yang cukup dalam selama sepekan terakhir. Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mencatat IHSG terkoreksi hingga 3,53% dalam kurun waktu satu pekan.

Tekanan tersebut dipicu oleh kombinasi sentimen negatif, mulai dari ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat, memanasnya kondisi geopolitik, hingga dampak rebalancing indeks global. Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ke level 17.500 serta durasi perdagangan yang lebih singkat turut memperlemah posisi IHSG.

Memasuki pekan depan, pelaku pasar diprediksi akan melakukan penyesuaian posisi atau catch-up terhadap pergerakan bursa global yang terjadi selama masa libur panjang. Investor juga akan menunggu rilis data inflasi produsen dan konsumen dari Amerika Serikat sebagai indikator tambahan dalam menentukan arah investasi ke depan.

Hingga penutupan perdagangan Jumat (15/5/2026), mayoritas bursa Asia berakhir di zona merah. Nikkei 225 tercatat melemah 2,84% dalam sepekan, disusul oleh KOSPI Korea Selatan yang terkoreksi 3,63%, dan Indeks Hang Seng Hong Kong yang turun 1,32%. Adapun IHSG ditutup di level 6.723,32 pada Rabu (13/5/2026) sebelum bursa domestik memasuki masa libur.

83175 mtwzykyk00gmmtal3n5kvxmf79fnutdz

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *