FENESIA – Perusahaan otomotif raksasa asal Amerika Serikat, Tesla, memutuskan untuk membangun pabrik kedua di Asia, yaitu di India. Padahal, sebelumnya Indonesia telah disinggung untuk sasaran investasi di Asia.
Keputusan Tesla untuk membangun pabrik ketiganya serta pabrik kedua di Asia telah hampir mendekati keputusan akhir, yakni India. Lebih tepatnya, di Karnataka-Bangalore, India. Hal ini disampaikan langsung oleh menteri negara bagian tersebut pada Senin, 15 Februari 2021.
Ternyata wacana dibukanya pengembangan Tesla di India sudah lama pula dibicarakan oleh Elon Musk, seperti beberapa balasan pada akun Twitter resminya. Pada Desember 2019, Elon Musk juga mengonfirmasi bahwa ia akan meluncurkan Tesla ke negara ini.
Would love to be in India. Some challenging government regulations, unfortunately. Deepak Ahuja, our CFO, is from India. Tesla will be there as soon as he believes we should.
— Elon Musk (@elonmusk) May 30, 2018
Pengikut kabar otomotif dan rakyat India pun digemparkan dengan tweet terbaru Elon Musk pada hari Sabtu, 13 Februari 2021. Ia menuliskan “sesuai janji” pada tweetnya tersebut.
As promised
— Elon Musk (@elonmusk) January 13, 2021
Walaupun sebelumnya, Elon Musk dan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut B. Pandjaitan sudah membicarakan terkait peluang investasi Tesla di Indonesia. Elon sendiri tertarik dengan investasi di bidang sistem penyimpanan energi (Energy Storage System).
Lalu, apakah alasan dari Tesla untuk memilih India?
Elon Musk sudah lebih dahulu melakukan negosiasi dengan India. Sebab, hal ini menjadi ekspansi pabrik Tesla di Asia karena pembangunan pabrik Tesla di Cina menghasilkan keberhasilan penjualan sebesar 5%. Saat ini, pihak Tesla dan India sedang melakukan pengujian pembangunan terkait pabrik dan perkantoran.
Elon Musk memilih lokasi di India ini karena kawasan Karnataka ini kaya akan hub kendaraan listrik dan sumber talenta manufaktur. Seperti adanya Mercedes Benz, Greatwall, Volvo, Bosh, dan GM di sana.
Tak hanya itu, pemerintah setempat juga sangat mendukung kendaraan terelektrifikasi ini dengan menyiapkan biaya US$3 miliar untuk hub, subsidi promo investasi, pembebasan bea 100% untuk penggantian konversi tanah, dan potensi manusia di bidang IT yang berlimpah.














