Singapura – Google menilai kawasan Asia belum mampu mengoptimalkan potensi industri hijaunya secara maksimal meski memiliki kapasitas manufaktur dan permintaan energi bersih yang tinggi dari sektor korporasi. Kesenjangan ini terjadi akibat belum terintegrasinya berbagai elemen pendukung dalam ekosistem transisi energi.
Head of Regional Sustainability for APAC Google, Spencer Low, menegaskan bahwa permintaan dari pihak perusahaan saja tidak lagi cukup untuk mendorong perubahan signifikan. Diperlukan transformasi sistemik yang lebih mendalam agar komitmen korporasi dapat terealisasi menjadi industri hijau yang nyata.
Dalam forum Climate Group Asia Action Summit, Spencer memaparkan tiga aspek krusial yang harus segera dibenahi, yakni akses pasar, infrastruktur jaringan listrik, dan kebijakan pendukung. Ia menyoroti mekanisme pembelian energi bersih di Asia yang saat ini masih terfragmentasi, sehingga diperlukan perluasan skema seperti direct power purchase agreement (PPA) hingga perdagangan energi lintas batas.
Selain itu, pengembangan ASEAN Power Grid dianggap mendesak untuk memperkuat integrasi energi kawasan. Spencer menekankan pentingnya pendekatan power-first infrastructure, di mana kesiapan energi bersih harus menjadi prioritas utama dalam perencanaan pusat data maupun kawasan industri, bukan sekadar faktor tambahan.
Google sendiri mendorong konsep zona energi bersih yang menempatkan kawasan industri berdekatan dengan sumber energi rendah karbon seperti tenaga surya dan angin. Perusahaan berkomitmen menerapkan model operasional 24/7 carbon-free energy, yang membutuhkan dukungan data pemantauan konsumsi energi secara presisi, serupa dengan sistem yang telah diterapkan di Taiwan dan Australia.
Di sisi lain, dekarbonisasi rantai pasok atau emisi Scope 3 menjadi tantangan besar mengingat posisi Asia sebagai pusat rantai pasok global. Spencer mendorong perusahaan besar untuk menggunakan daya beli mereka guna memfasilitasi pemasok tingkat dua dan tiga dalam beralih ke energi bersih.
Langkah ini ditempuh Google melalui kolaborasi dengan berbagai koalisi industri, seperti Clean Energy Buyers Association dan Asia Clean Energy Coalition. Pendekatan sektoral dinilai efektif untuk mempercepat keterlibatan pelaku usaha dalam menekan jejak karbon di sepanjang rantai produksi global.







