Jakarta – PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) mencatatkan kinerja keuangan yang solid sepanjang tahun 2025 dengan membukukan laba bersih sebesar Rp 1,8 triliun. Angka tersebut mencerminkan lonjakan signifikan sebesar 60,2 persen dibandingkan periode sebelumnya. Berkat capaian positif ini, perusahaan memutuskan untuk membagikan dividen tunai kepada pemegang saham sebesar Rp 498 miliar atau setara dengan Rp 47 per lembar saham.
Berdasarkan laporan keuangan perseroan, total pendapatan DSNG pada tahun 2025 mencapai Rp 12,3 triliun. Torehan ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 21,7 persen secara tahunan atau year on year. Sektor kelapa sawit tetap mendominasi struktur pendapatan perusahaan dengan kontribusi mencapai 88 persen dari total penerimaan.
Direktur Utama DSNG, Andrianto Oetomo, menyatakan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil dari penerapan manajemen yang prudent serta fokus pada peningkatan produktivitas dan efisiensi operasional. Pihaknya berkomitmen untuk terus memperkuat fondasi bisnis, termasuk di sektor produk kayu dan energi terbarukan, dengan tetap mengedepankan prinsip tata kelola perusahaan yang baik atau Good Corporate Governance (GCG).
“Ke depan, perseroan akan terus fokus pada pertumbuhan yang berkelanjutan melalui penguatan operasional, memperkuat budaya continuous improvement, serta mengelola risiko yang lebih baik agar lebih agile terhadap perkembangan ekonomi global maupun domestik,” ujar Andrianto dalam keterangan resmi yang diterbitkan Selasa (9/6/2026).
Tren pertumbuhan tersebut berlanjut hingga triwulan pertama tahun 2026. Data perusahaan menunjukkan pendapatan pada kuartal I 2026 mencapai Rp 2,88 triliun, tumbuh 8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, laba bersih tercatat sebesar Rp 430,43 miliar pada akhir Maret 2026, meningkat 16,91 persen secara tahunan. Peningkatan ini didorong oleh kenaikan produksi tandan buah segar sebesar 2,7 persen atau mencapai 492.000 ton, serta produksi crude palm oil (CPO) yang naik 2,1 persen menjadi 141.000 ton.
Analis pasar modal menilai prospek DSNG hingga akhir tahun 2026 masih cukup menjanjikan. Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, Arinda Izzaty, menyebutkan bahwa sentimen positif datang dari harga CPO global yang bertahan tinggi serta pemulihan produksi pasca-cuaca ekstrem. Namun, ia mengingatkan adanya risiko yang perlu diwaspadai, seperti kenaikan biaya operasional, fluktuasi nilai tukar, serta potensi perubahan kebijakan ekspor.
Pandangan serupa disampaikan oleh Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo. Menurutnya, harga jual rata-rata atau Average Selling Price (ASP) CPO yang terjaga di level tinggi pada kuartal pertama 2026 menjadi penopang utama profitabilitas perusahaan.
Sementara itu, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai kinerja DSNG saat ini sangat solid dengan tata kelola dan efisiensi utang yang terkelola baik. Ia merekomendasikan strategi buy on weakness bagi para investor dengan target harga Rp 1.635 per saham, seraya menegaskan bahwa saham emiten ini dinilai atraktif untuk investasi jangka panjang.







