Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi masih akan menghadapi tekanan berat pada perdagangan pekan depan. Sentimen negatif dari hasil kocok ulang indeks FTSE Russell hingga fluktuasi nilai tukar rupiah menjadi tantangan utama bagi pasar saham domestik di tengah tren pelemahan yang telah mencapai 28,74 persen sejak awal tahun.
Hingga penutupan perdagangan Jumat (24/5/2026), IHSG berada di level 6.162,04 setelah mencatatkan koreksi mingguan sebesar 8,35 persen. Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengungkapkan bahwa arus keluar dana asing yang masif menjadi pemicu utama penurunan indeks. Sepanjang tahun berjalan, dana asing yang hengkang dari pasar reguler telah mencapai Rp 51,43 triliun.
Selain tekanan dari rebalancing MSCI dan FTSE, pasar kini dihantui oleh sentimen kebijakan moneter serta ketidakpastian fiskal domestik. Kondisi ini diperburuk dengan melemahnya nilai tukar rupiah yang mendekati level Rp 17.700 per dolar AS, serta kebijakan suku bunga Bank Indonesia yang berada di angka 5,25 persen.
Pengamat Pasar Modal, Hendra Wardana, menambahkan bahwa tekanan eksternal turut memperkeruh suasana. Lonjakan harga minyak dunia akibat tensi geopolitik Amerika Serikat dan Iran telah memicu kekhawatiran inflasi global. Hal ini membuat pelaku pasar cenderung menjauhi aset berisiko di negara berkembang, termasuk Indonesia.
Secara teknikal, pergerakan IHSG pada pekan depan berpotensi bergerak pada rentang 6.000 hingga 6.300. Level 6.000 dipandang sebagai area support krusial yang akan terus dicermati. Meski indeks sedang dalam tekanan, valuasi sejumlah emiten, terutama sektor perbankan, kini dinilai sudah berada di area undervalued jika dibandingkan dengan rata-rata historisnya.
Terkait keputusan FTSE Russell yang mendepak empat saham yakni DSSA, DAAZ, HILL, dan MLIA, Rully menilai dampaknya lebih bersifat psikologis. Pasalnya, realisasi perubahan tersebut baru akan berlaku efektif pada 22 Juni 2026. Meski begitu, likuiditas pasar yang cenderung menipis akibat libur panjang Idul Adha dapat memicu volatilitas harga yang lebih ekstrem.
Dalam menghadapi kondisi pasar yang volatil, investor disarankan untuk menerapkan strategi selektif melalui pendekatan stock picking. Fokus utama sebaiknya diarahkan pada emiten dengan fundamental kuat, arus kas yang stabil, serta valuasi harga yang menarik.
Para analis merekomendasikan sejumlah saham untuk dicermati, di antaranya DEWA, BRMS, JPFA, CMRY, IMPC, UNVR, ULTJ, serta SCMA. Sektor perbankan, telekomunikasi, dan komoditas pilihan juga dinilai masih memiliki prospek kinerja yang solid bagi investor yang berorientasi pada akumulasi jangka panjang.







